Hidayat Putra Suka menulis sejarah dan beberapa artikel yang membahas seputar keragaman budaya.

Eksplor Eksotisme Benteng Pendem

2 min read

Benteng Pendem terletak di Ngawi, Jawa Timur, di dekat pertemuan dua sungai besar, Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Pemerintah saat ini sedang merevitalisasi situs cagar budaya nasional untuk menjaga kelestariannya.

Ngawi tidak hanya terkenal karena sejarah manusia purbanya. Kabupaten Jawa Timur ini berbatasan langsung dengan Jawa Tengah dan memiliki banyak tempat wisata sejarah, seperti benteng Hindia Belanda. Lokasinya disebut Benteng Van Den Bosch dan berada di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, sekitar satu kilometer timur laut dari pusat kota kabupaten yang dihuni oleh hampir 900 ribu orang.

Dikenal sebagai cultuurstelsel atau tanam paksa, benteng ini diberi nama Johannes Graaf Van Den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-43. Di atas tanah seluas 15 hektare, struktur bersejarah itu berdiri dengan panjang 165 meter dan lebar 80 meter. Arsitek Belanda Jacobus von Dentzsch mulai membangun struktur pertahanan tersebut dari 1839 hingga 1845.

Posisi benteng ini tidak seperti biasanya. Benteng seluas 7.594,2 meter persegi (m2) itu tidak seperti biasanya dibangun dengan posisi lebih tinggi dari daratan di sekitarnya atau di perbukitan. Bangunan itu didirikan oleh arkitekt Dentzsch dengan posisinya lebih rendah dari tanah di sekitarnya. Benteng Van Den Bosch juga disebut Benteng Pendem karena lokasinya yang tersembunyi.

Selain itu, lokasi Benteng Pendem berada di sudut lahan tempuran, di mana dua sungai besar, Bengawan Solo dan Sungai Madiun, bertemu, yang membuatnya sangat penting bagi pemerintah Hindia Belanda untuk menjaga dan menguasai jalur perdagangan mereka.

Selain itu, mereka menghadapi perlawanan keras dari Pangeran Diponegoro dalam perang yang berlangsung dari 1825 hingga 1830 pada saat itu. Ketika peperangan terjadi, Ngawi dan Madiun digunakan oleh Belanda sebagai tempat pertahanan.

Van Den Bosch memutuskan untuk membangun pusat pertahanan di tepian Bengawan Solo karena Bengawan Solo merupakan jalur transportasi penting yang menghubungkan pesisir utara dengan wilayah pedalaman Pulau Jawa.

Van Den Bosch memperkuat bentengnya dengan 250 prajurit bersenjata bedil, 60 pasukan kavaleri, dan enam meriam api di beberapa sudut. Para prajurit diberikan kamar di lantai dua benteng yang mirip dengan asrama. Namun, di bagian bawah tanahnya dibangun semacam penjara. Ada juga bangunan yang digunakan untuk menyimpan amunisi.

Benteng Pendem masih menarik meskipun sudah berusia hampir dua abad dan tidak lagi digunakan sebagai bangunan pertahanan. Bangunan-bangunan khas Eropa masih terlihat kokoh, meskipun sebagian telah hancur. Ini adalah hasil dari bom yang dilakukan oleh pasukan Jepang selama Perang Kemerdekaan tahun 1942. Bahkan beberapa bagian dinding mulai terlihat kusam.

Benteng ini dulunya merupakan kantor Batalyon Artileri Medan 12, yang merupakan bagian dari Komando Strategis Cadangan TNI Angkatan Darat (Kostrad) di Kabupaten Ngawi. Kesatuan inilah yang kemudian mengambil inisiatif untuk membantu menjaga kekayaan budaya bangsa dan membuka benteng sebagai tempat wisata sejarah pada tahun 2012.

Rekonstruksi Benteng Pendem

Sekarang menjadi tempat wisata sejarah di Ngawi dan salah satu tempat terbaik untuk pemotretan di luar ruangan di Jawa Timur. Pada 1 Februari 2019, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana telah mengunjungi Benteng Pendem.

Presiden Joko Widodo kemudian meminta revitalisasi bangunan bersejarah ini dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Presiden meminta revitalisasi disesuaikan dengan fungsinya sebagai tempat wisata yang ramah lingkungan dengan mempertahankan kearifan lokal. Dengan cara yang sama, pemerintah daerah harus terlibat dari tahap perencanaan hingga tahap pembangunan.

Sejak 10 Desember 2020, restorasi Benteng Pendem telah dimulai oleh Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya. Restorasi dilakukan dengan tetap melindungi komponen bangunan utama sesuai dengan tahapan pelestarian bangunan gedung cagar budaya. untuk memastikan bahwa pemugaran tidak menghilangkan arsitektur asli bangunan. Di antara tiga belas bangunan yang akan direnovasi adalah barak prjurit, mess perwira, dapur umum, kediaman dan kantor gubernur jenderal, baston, dan gerbang.

Kemudian dilakukan penataan wilayah dengan membangun jalan atau akses, drainase, jembatan, pedestrian, dan lansekap. Selain itu, dibangun fasilitas tambahan seperti kereta bawah tanah, gardu listrik, toilet, dan sistem air bersih.

Penataan Benteng Pendem juga mencakup area seluas kurang lebih 42.181 meter persegi. Kementerian PUPR juga telah menunjuk PT Nindya Karya untuk mengerjakan proyek revitalisasi. Proyek itu memiliki waktu selesai 780 hari dan diharapkan selesai pada Januari 2023. Sumber anggaran revitalisasi adalah APBN tahun jamak (multiyears) 2020–2023 sebesar Rp113,7 miliar.

Program revitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengunjung domestik dan internasional serta memberikan dampak positif pada ekonomi masyarakat di sekitarnya. Selain itu, infrastruktur wisata sejarah ke Benteng Pendem ini dapat diperkuat dengan pembukaan Tol Trans Jawa ruas Solo-Ngawi sepanjang 90 kilometer yang beroperasi penuh pada November 2018.

Pada masa pandemi COVID-19, penting untuk selalu mengikuti protokol kesehatan: memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak dua meter. Ini adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus corona.

Hidayat Putra Suka menulis sejarah dan beberapa artikel yang membahas seputar keragaman budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *